Sabtu, 28 Maret 2026

Surat 28 — Rindu yang Belajar Tenang

(Empat Bulan, Seminggu Setelah Lebaran) 

Hari ini kamu empat bulan, Maharatu. 

Lebaran sudah lewat sekitar satu minggu. Suasana yang beberapa waktu lalu terasa hangat dan ramai, kini kembali pelan-pelan menjadi biasa. 

Tahun ini terasa berbeda. 

Biasanya Lebaran identik dengan kebersamaan, dengan rumah yang lebih hidup, dengan suara-suara yang saling menyapa. Tapi kali ini, ayah merasakan Lebaran dengan cara yang lebih tenang. 

Tidak banyak yang berubah di luar. 

Tapi banyak yang berubah di dalam. 

Di usiamu yang keempat bulan, mungkin kamu sudah mulai lebih kuat mengangkat kepalamu. Mungkin sudah mulai tengkurap dan melihat dunia dari sudut yang berbeda. Dunia kecilmu perlahan meluas. 

Ayah membayangkan itu semua tanpa tergesa-gesa. 

Jika di bulan sebelumnya rindu terasa berat, kini rasanya mulai lebih bisa diajak berdampingan. Tidak hilang, tapi tidak lagi mendesak. 

Seperti suasana setelah Lebaran — tidak lagi ramai, tapi menyisakan hangat yang pelan. 

Ayah belajar sesuatu di bulan ini. 

Bahwa tidak semua hal harus kembali seperti semula untuk bisa terasa baik. Kadang hidup memang berubah arah, dan tugas kita bukan menolak, tapi memahami. 

Maharatu, ayah tidak berada di sampingmu di hari Lebaran pertamamu. 

Tapi ayah tidak melewatkanmu.
Namamu tetap ada di setiap doa.
Di setiap momen hening yang ayah jalani. 

Selamat empat bulan, Ratu kecil. 

Semoga kamu tumbuh dengan damai, di mana pun kamu berada.
Rindu ini sekarang tidak lagi berisik.
Ia menjadi lebih tenang, tapi tetap ada. 

Dan ayah akan tetap menuliskan namamu, seperti biasa. 

— Ayah 🤍

Sabtu, 28 Februari 2026

Surat 28 — Mencintaimu dari Ruang yang Berbeda

(Tiga Bulan, Ramadhan Pertama) 

Hari ini kamu tiga bulan, Maharatu. 

Ramadhan datang untuk pertama kalinya sejak kamu lahir. 

Biasanya orang menyambut bulan ini dengan persiapan sederhana — menata waktu sahur, merencanakan berbuka, memperbanyak doa. Tahun ini, ayah menyambutnya dengan perasaan yang berbeda. 

Ada ruang yang kini memisahkan kita. 

Di usia tiga bulan, mungkin kamu mulai lebih sering tersenyum. Mungkin sudah mulai mengeluarkan suara kecil yang terdengar seperti percakapanmu sendiri dengan dunia. Mungkin pipimu semakin berisi, dan matamu semakin jernih memandang sekitar. 

Ayah membayangkan semuanya dari jauh. 

Ramadhan mengajarkan tentang menahan.
Menahan lapar.
Menahan haus.
Dan tanpa disadari, ayah juga belajar menahan rindu. 

Beberapa hari terakhir tubuh ayah terasa kurang kuat. Bukan sakit yang besar, hanya lelah yang sulit dijelaskan. Mungkin karena kurang tidur. Mungkin karena hati bekerja lebih keras dari biasanya. 

Rindu itu tidak selalu membuat seseorang menangis. Kadang ia hanya membuat dada terasa penuh dan langkah terasa lebih berat. 

Saat sahur, ayah menyebut namamu dalam doa.
Saat berbuka, ayah berharap kamu tumbuh dalam keadaan sehat dan tenang.
Tidak ada doa yang rumit. Hanya permintaan sederhana agar kamu selalu dijaga. 

Mencintaimu dari ruang yang berbeda bukan hal yang mudah. 

Tapi Ramadhan membuat ayah mengerti bahwa jarak bukan alasan untuk berhenti berbuat baik — termasuk berbuat baik pada perasaan sendiri. 

Ayah tidak berada di dekatmu untuk melihat senyummu bulan ini.  Tapi cinta tidak memerlukan jarak dekat untuk tetap utuh. 

Jika suatu hari kamu membaca ini, ketahuilah: 

di Ramadhan pertamamu, ayah belajar menjadi lebih sabar. Bukan karena ayah kuat, tapi karena ayah memilih tetap mencintaimu dengan tenang. 

Selamat tiga bulan, Maharatu. 

Tumbuhlah dengan damai. 

Ayah akan tetap menuliskan namamu, dari ruang mana pun ayah berada. 

— Ayah 🤍

Rabu, 28 Januari 2026

Surat 28 — Ketika Rumah Belajar Sunyi

(Dua Bulan, dan Dunia yang Berubah) 

Hari ini kamu dua bulan. 

Bulan ini terasa berbeda. 

Rumah tidak lagi memiliki suara tangismu di tengah malam. Tidak ada kain bedong yang terlipat di samping tempat tidur. Tidak ada napas kecil yang biasa ayah dengarkan sebelum tidur. 

Hidup berubah lebih cepat dari yang ayah bayangkan. 

Tanggal 6 Januari menjadi hari ketika arah cerita kita mengambil jalannya sendiri. Bukan tentang siapa yang benar atau salah. Hanya tentang keadaan yang membawa kita ke ruang yang berbeda. 

Di usia dua bulan, kamu mungkin mulai lebih sering tersenyum. Mungkin mulai mengenali wajah-wajah di sekitarmu. Mungkin sudah mulai merespon suara dengan lebih jelas. 

Ayah membayangkan semua itu dari jauh. 

Dan anehnya, jarak tidak membuat rasa ini berkurang. Ia justru tumbuh menjadi lebih sadar, lebih dewasa. Ayah belajar bahwa cinta tidak selalu diukur dari seberapa dekat jarak, tapi seberapa konsisten hati. 

Dua bulan lalu ayah menggendongmu setiap malam selepas kerja. Hari ini ayah menggendong kenangan itu dengan lebih kuat. Maharatu, hidup boleh berubah bentuk. 

Tapi namamu tetap ayah tulis setiap tanggal 28. 

Selamat dua bulan, Ratu kecil. 

Ayah tetap di sini. 

— Ayah 🤍

Minggu, 28 Desember 2025

Surat 28 — Pelukan Pertama di Dunia yang Baru

(Satu Bulan Pertamamu) 
Hari ini kamu genap satu bulan, Maharatu. 

Sebulan terakhir hidup terasa berbeda. Waktu tidak lagi berjalan seperti biasanya. Ia bergerak mengikuti ritme tangismu, jam menyusumu, dan cara kecilmu mencari nyaman ketika dunia terasa terlalu terang. 

Ayah belajar banyak dalam tiga puluh hari ini. 
Belajar menggendongmu dengan senyuman. 
Belajar membedongmu hingga kamu tenang. 
Belajar mengenali suara tangismu tanpa perlu bertanya pada siapa pun. 

Ada malam ketika kamu tertidur di dada ayah. Napasmu hangat, kecil, teratur. Di saat itu, dunia terasa sederhana. Tidak ada yang lebih penting selain memastikan kamu aman dan merasa dicintai. 

Wajahmu mulai berubah. Pipi kecilmu semakin berisi. Ekspresimu semakin jelas. Kadang seperti tersenyum sendiri, dan ayah memilih percaya itu adalah caramu menyapa dunia. 

Satu bulan ini bukan tentang kesempurnaan. 
Tentang kurang tidur. Tentang belajar. Tentang menjadi orang tua untuk pertama kalinya. 

Tapi di setiap lelah, ada rasa syukur yang besar. 
Selamat satu bulan, Maharatu. 

Awal hidupmu dimulai dengan pelukan yang sungguh-sungguh. 

— Ayah 🤍