(Empat Bulan, Seminggu Setelah Lebaran)
Hari ini kamu empat bulan, Maharatu.
Lebaran sudah lewat sekitar satu minggu. Suasana yang beberapa waktu lalu terasa hangat dan ramai, kini kembali pelan-pelan menjadi biasa.
Tahun ini terasa berbeda.
Biasanya Lebaran identik dengan kebersamaan, dengan rumah yang lebih hidup, dengan suara-suara yang saling menyapa. Tapi kali ini, ayah merasakan Lebaran dengan cara yang lebih tenang.
Tidak banyak yang berubah di luar.
Tapi banyak yang berubah di dalam.
Di usiamu yang keempat bulan, mungkin kamu sudah mulai lebih kuat mengangkat kepalamu. Mungkin sudah mulai tengkurap dan melihat dunia dari sudut yang berbeda. Dunia kecilmu perlahan meluas.
Ayah membayangkan itu semua tanpa tergesa-gesa.
Jika di bulan sebelumnya rindu terasa berat, kini rasanya mulai lebih bisa diajak berdampingan. Tidak hilang, tapi tidak lagi mendesak.
Seperti suasana setelah Lebaran — tidak lagi ramai, tapi menyisakan hangat yang pelan.
Ayah belajar sesuatu di bulan ini.
Bahwa tidak semua hal harus kembali seperti semula untuk bisa terasa baik. Kadang hidup memang berubah arah, dan tugas kita bukan menolak, tapi memahami.
Maharatu, ayah tidak berada di sampingmu di hari Lebaran pertamamu.
Tapi ayah tidak melewatkanmu.
Namamu tetap ada di setiap doa.
Di setiap momen hening yang ayah jalani.
Selamat empat bulan, Ratu kecil.
Semoga kamu tumbuh dengan damai, di mana pun kamu berada.
Rindu ini sekarang tidak lagi berisik.
Ia menjadi lebih tenang, tapi tetap ada.
Dan ayah akan tetap menuliskan namamu, seperti biasa.
— Ayah 🤍