(Tiga Bulan, Ramadhan Pertama)
Hari ini kamu tiga bulan, Maharatu.
Ramadhan datang untuk pertama kalinya sejak kamu lahir.
Biasanya orang menyambut bulan ini dengan persiapan sederhana — menata waktu sahur, merencanakan berbuka, memperbanyak doa. Tahun ini, ayah menyambutnya dengan perasaan yang berbeda.
Ada ruang yang kini memisahkan kita.
Di usia tiga bulan, mungkin kamu mulai lebih sering tersenyum. Mungkin sudah mulai mengeluarkan suara kecil yang terdengar seperti percakapanmu sendiri dengan dunia. Mungkin pipimu semakin berisi, dan matamu semakin jernih memandang sekitar.
Ayah membayangkan semuanya dari jauh.
Ramadhan mengajarkan tentang menahan.
Menahan lapar.
Menahan haus.
Dan tanpa disadari, ayah juga belajar menahan rindu.
Beberapa hari terakhir tubuh ayah terasa kurang kuat. Bukan sakit yang besar, hanya lelah yang sulit dijelaskan. Mungkin karena kurang tidur. Mungkin karena hati bekerja lebih keras dari biasanya.
Rindu itu tidak selalu membuat seseorang menangis. Kadang ia hanya membuat dada terasa penuh dan langkah terasa lebih berat.
Saat sahur, ayah menyebut namamu dalam doa.
Saat berbuka, ayah berharap kamu tumbuh dalam keadaan sehat dan tenang.
Tidak ada doa yang rumit. Hanya permintaan sederhana agar kamu selalu dijaga.
Mencintaimu dari ruang yang berbeda bukan hal yang mudah.
Tapi Ramadhan membuat ayah mengerti bahwa jarak bukan alasan untuk berhenti berbuat baik — termasuk berbuat baik pada perasaan sendiri.
Ayah tidak berada di dekatmu untuk melihat senyummu bulan ini. Tapi cinta tidak memerlukan jarak dekat untuk tetap utuh.
Jika suatu hari kamu membaca ini, ketahuilah:
di Ramadhan pertamamu, ayah belajar menjadi lebih sabar. Bukan karena ayah kuat, tapi karena ayah memilih tetap mencintaimu dengan tenang.
Selamat tiga bulan, Maharatu.
Tumbuhlah dengan damai.
Ayah akan tetap menuliskan namamu, dari ruang mana pun ayah berada.
— Ayah 🤍